Beranda Buku

Monday, May 21, 2007
Nasionalisme Nagabonar
TIDAK banyak film Indonesia terutama setelah tahun 2000-an yang mengangkat isu-isu kebangsaan. Film "Nagabonar (Jadi) 2" yang diproduksi tahun 2007 oleh PT Demi Gisela Citra dan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi, mengingatkan saya pada wacana kebangsaan yang pada tanggal 20 Mei ini akan kita peringati bersama. Film ini begitu khas yang menggambarkan keterlibatan rakyat kecil dalam suatu pencapaian kemerdekaan Indonesia, namun sebenarnya tak pernah benar-benar tuntas merdeka.

Kemerdekaan seharusnya juga milik kehidupan rakyat sehari-hari, karena suatu bangsa berdiri di atas tanah milik rakyat, yang dilenggarakan oleh pemerintah dalam suatu negara, untuk kepentingan rakyat. Tetapi, melalui film ini kita dapat merefleksikan benarkah kemerdekaan milik rakyat sehari-hari? Andai rakyat sebenarnya belum merdeka, milik siapakah Indonesia setelah merdeka? Bagaimana wacana kebangsaan bangsa Indonesia dibentuk dalam film ini?

Wacana kebangsaan menurut Anderson dalam Choi (2006), adalah suatu komunitas anggitan yang mengikat anggotanya dengan perasaan identitas dan rasa kepemilikan. Ketika sejarah nasional yang terbentuk dalam surat kabar, karya sastra, dan media seperti film dikomsumsi dengan latar belakang tempat yang berbeda, pembacanya akan merasakan sesuatu kebersamaan yang ditandai dalam batas-batas nasional sebaik perasaan berbagi sejarah dan takdir yang menyatukan.

"Nagabonar (Jadi) 2" mengartikan wacana kebangsaan pada kepedulian terhadap bangsa, yang menurut dia sudah dibangun dengan pengorbanan tokoh-tokoh bangsa, seperti yang disebut dalam penggambaran Monumen Soekarno-Hatta serta Soedirman. Menurut "Nagabonar (Jadi) 2" saat ini, banyak orang melupakan orang-orang yang telah membentuk bangsa ini. Dengan penggambaran itulah, saya melihat sesuatu yang paradoks lahir dari wacana film ini. Di satu sisi "Nagabonar (Jadi) 2" ingin menghadirkan sudut pandang rakyat kecil dengan seorang tokoh dari kalangan bawah yang tidak mengeyam pendidikan formal.

Tokoh ini memperjuangkan wacana kebangsaan yang merakyat. Tapi di sisi lain, "Nagabonar (Jadi) 2" menunjukkan ketersedotan rakyat pada narasi besar sejarah kebangsaan yang diorasikan oleh kalangan terdidik, dalam suatu mitos kepahlawanan yang dibangunannya. Memang film ini pun mengakui bahwa tak semua yang dikuburkan dalam makam pahlawan adalah benar-benar pahlawan. Pahlawan hanyalah konstruksi orang-orang yang berkuasa.

Saya teringat pada kritik Chatterje (1993) bahwa wacana kebangsaan juga berasal dari kalangan kolonial. Wacana kebangsaan disebarkan oleh pendiri bangsa, pemimpin-pemimpin perjuangan, yang mengadopsi dari negara-negara penjajah. Gerakan kebangsaan adalah gerakan politik yang secara keseluruhannya menurut Chaterjje adalah produk sejarah Eropa. Ketika bangsa-bangsa yang baru merdeka dari penjajahan ini berdiri, termasuk Indonesia, para penyelenggaranya mengadopsi praktik-praktik ekonomi dan politik yang secara institusional di bawah konsep pembangunan dan modernisasi ala kolonial.

Suatu kenyataan harus diakui, Nagabonar sebagai representasi rakyat kecil memang miris. Ia harusnya merayakan kemerdekaan Indonesia sebagai bagian dari perjuangan rakyat dan pemimpin-pemimpin bangsa. Tetapi, perayaan itu sebenarnya masih menyimpan keterbelengguan yang membuatnya sedih. Rakyat tak pernah dibela. Orang-orang miskin dipinggirkan di luar tembok-tembok kemewahan para elit, sementara penyelenggara negara sibuk beradu satu sama lain dengan mengatasnakamakan rakyat. Projek-projek besar yang menguntungkan segelintir orang dinomorsatukan, sementara negeri ini terus dijual dalam investasi asing.

Keberpihakan Nagabonar pada rakyat memang agenda besar film ini. Penyerahan hidup Nagabonar pada wacana kebangsaan dari kalangan elit, diartikulasikan sebaik-baiknya dengan bersikap mengabdi pada kepentingan rakyat. Hal itu pun tampak pada usaha untuk terus menegosiasikan kepentingan mereka dengan kritik-kritik pedasnya terhadap para penyelenggara negara maupun pada generasi muda yang beruntung punya akses pendidikan dan ekonomi yang lebih baik, tapi tidak berakar pada identitas kerakyatan Indonesia. Mengapa yang dipikirkan anak-anak muda yang gemilang aksesnya itu suatu yang besar, yang terlihat mewah?

Tokoh Bonaga, sebagai salah satu representasi generasi sekarang yang beruntung, dalam bangunan wacana kebangsaan ini memang tidak selalu ditempatkan dalam posisi yang salah. Ia digambarkan sebagai anak muda yang semangat, cerdas, berbakti pada orang tua, dan taat beragama, meskipun dalam beberapa hal dan ini penting, memperlihatkan sesuatu praktik ideologi yang berbeda. Identitas keindonesiaan Bonaga yang hidup di era kontemporer digambarkan dengan tetap memegang moral umum untuk ukuran zaman kontemporer dibanding tiga teman-temannya.

Begitu juga Umar sebagai representasi generasi muda kelas bawah. Umar digambarkan sebagai sosok yang ulet, terus bertahan hidup, dan punya pengabdian sosial terhadap lingkungannya. Tetapi, kurun waktu membuat adanya keberjarakan emosi antara mereka dan peristiwa pembentukan Negara ini. Perbedaan rentang waktu menjadikan hegemoni wacana kebangsaan berbeda. Bonaga mengalami hidupnya di masa pembangunan. Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan adalah suatu istilah indoktrinasi di sekolah di era Orde Baru.

Pembangunan di Indonesia dan di banyak negara yang pernah terjajah lain adalah praktik modernisasi yang dikonsepkan oleh negara-negara Barat. Pembangunan dalam konsep modernisasi adalah pembangunan fisik atau materi. Bukan karena konsep ini merupakan konsep Soeharto, tetapi konsep modernisasi di Barat berlandaskan pada rasionalitas sejak masa Enlightment dan inilah yang diadopsi mentah-mentah oleh bangsa-bangsa yang baru merdeka dari penjajahan.

Orientasi pembangunan fisik inilah yang melatarbelakangi kehidupan Bonaga yang ia internalisasi dari cara pandang masyarakat, negara, lewat sistem pendidikan salah satunya. Bonaga yang mempunyai ijazah pendidikan hingga tingkat S-2 dalam film tersebut kemudian tampil dengan praktik ideologi yang kapitalis. Ijazah formal dan gelar itu menjadi lebih penting, daripada makna manusia terdidik itu sendiri.

Inilah sosok Bonaga yang menyebabkannya berbeda dengan kekokohan karakter Nagabonar. Meskipun Nagabonar tak mengenyam pendidikan, tetapi pergulatan kehidupan di masa prakemerdekaan dalam situasi kemiskinan mendidiknya menjadi manusia yang mempunyai akar kuat. Memang Bonaga masih muda dan proses perjalanan hidupnya masih panjang, justru itulah yang dikatakan dalam film ini, proses karakterisasi generasi muda bangsa ini belum selesai, belum menjadi satu kekuatan penyangga bangsa, selama masih berorientasi pada pembangunan diri secara materi.

Dalam sudut pandang Nagabonar, materi membuat manusia melupakan apa makna kemerdekaan. Dalam suatu adegan yang sangat simbolis dan menggetarkan, Nagabonar menangisi patung Soedirman, sebagai sosok yang ia idealkan di masa hidupnya, tetapi kini patung itu harus dibuat menghormat pada kendaraan-kendaraan yang lewat di bawahnya, jalanan utama Jakarta, yang sibuk, dan menyiratkan ketidakpedulian.

"Jenderaaaaaaal......siapa yang kau hormati siang dan malam itu? Apa karena mereka yang lalu lalang di depanmu itu memakai roda empat, Jenderal? Bah, tidak semua dari mereka pantas kau hormati, Jenderal. Turunkan tanganmu! Jenderaaaallll.....turunkan tanganmu! Bukan kau yang harus menghormati mereka! Tapi bangsa ini yang harus menghormatimu!"

Pertaruhan dua ideologi dalam wacana kebangsaan yang diangkat oleh film ini, pada akhirnya dimenangkan oleh artikulasi ideologi yang dibawa Nagabonar, yaitu suatu wacana kebangsaan yang merakyat, setelah Bonaga, sebagai representasi generasi muda, membatalkan investasi proyek pasanggrahan di tanah perkebunan rakyat. Itulah pandangan yang dibawa film "Nagabonar (Jadi) 2" ini. Baginya kemerdekaan itu baru benar-benar penuh, dengan tanpa investasi yang biasanya memengaruhi gerak langkah.

"Nagabonar (Jadi) 2" melihat investasi adalah penjajahan baru, karena menciptakan ketergantungan. Terlepas dari tingginya idealisme film ini, tetapi generasi baru bangsa ini memang layak diberi mimpi. Bukan semata memberikan mimpi-mimpi materialistis, tetapi mimpi berstandar tinggi yang diciptakan oleh bangsa ini sendiri, yaitu generasi berkarakter kuat, martabat yang tinggi, karena itulah inti kemerdekaan menurut wacana kebangsaan dalam film ini.

Bagaimanapun saya melihat film ini berusaha melihat sejarah, sebagai bagian dari masa kini dan masa depan dari perspektif rakyat kecil. Saya melihat film ini juga ingin mengatakan bahwa orasi sejarah itu penting. Sejarah tidak hanya cerita masa lalu, atau dongeng, tetapi menjadi akar identitas, tempat berpijak dalam menentukan arah masa depan. Terlepas dari milik siapakah sejarah yang diimajinasikan dalam film ini. Saya melihat "Nagabonar (Jadi) 2" menitipkan sesuatu pada generasi berikutnya, yang kelak berkesempatan menyelenggarakan Negara. Indonesia sudah terlanjur ada.

Soekarno, Hatta, Soedirman, dan banyak pendiri Indonesia lainnya tetap harus dihormati sebagai orang yang telah bersusah payah memikirkan negeri ini. Bentuk penghormatan itu adalah tak lain dan harus memikirkan rakyat. Kepada rakyatlah Indonesia ini dikembalikan.***

Penulis, alumnus Jurusan Sastra Jerman Unpad Bandung, kini mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Cultural Studies. Sekarang aktif di Sie. Sosial dan Kemasyarakatan Komunitas Beranda Buku dan di kelompok diskusi Cak Tarno Institut, Kober, Depok.

bisa juga di baca di sini http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/052007/19/0901.htm


Labels:

posted by Beranda Buku @ 8:40 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 

Dukung Gerakan Literasi Kami/Support our Literacy Movement
Kunjungi blog kami secara regular. Berikan komentar/Visit this site regularly. Please leave a comment
Kirimkan donasi Anda berupa buku2, finansial atau sarana/Send your donation, books, financial and/or other library inventories
Donasi dapat dialamatkan ke SINI /Send your donation HERE

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Comment Please!!
Name :
Web URL :
Message :


Blog Perpustakaan

Menu
Friends & Associates
Templates by
Free Blogger Templates

Pembelajar sejati adalah pembelajar sepanjang kehidupan berdetak dalam ribuan warna musim dengan senyuman ingin tahu Ibrahim menanyakan siapa diri, menanyakan siapa Tuhannya . A lifelong learner is a learner for as long as his/her heartbeat still in a thousand of color of seasons with a smile of Abraham asks who he is, asking who his lord is.