Beranda Buku

Friday, June 08, 2007
Penawaran Kerja Sama/Partnership Offers
Keterlibatan dan komitmen Anda terhadap kegiatan kami, sangat kami hargai dan diharapkan bisa berlangsung secara berkala. Sebagai kompensasi bantuan berkala dari Anda, maka kami akan memberikan, di antaranya;

1. Pemberitahuan setiap kegiatan yang akan kami adakan beserta laporan pertanggungjawabannya melalui surat email.
2. Laporan keuangan per bulan (khusus untuk donasi finansial serta sarana dan prasarana lainnya).
3. Laporan Pertanggungjawaban Triwulan Kegiatan Harian Perpustakaan termasuk di dalamnya statistik anggota, statistik peminjam dan statistik buku yang dipinjam per bulan. Laporan ini akan diberikan setiap 3 bulan sekali melalui pos. Berlaku untuk donatur finansial, sarana, prasarana maupun bahan pustaka.

Berikut poin 4 sampai 6 berlaku untuk donatur bahan pustaka.
4. Pencantuman nama donatur dan jenis donasinya di situs kami.
5. Pencantuman nama donatur dan jenis donasinya di belasan milis internet yang berkaitan dengan literasi dan pendidikan.

6. Pencantuman logo donatur di spanduk perpustakaan.

Labels: ,

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 12:04 AM   0 comments
Thursday, June 07, 2007
Inventarisasi Perpustakaan/Library Inventories

Berikut adalah inventarisasi peralatan dan perlengkapan (selain bahan pustaka) yang saat ini tersedia di perpustakaan (per Juni 2007):

No/Nama Barang/Jumlah
1. Spidol - 5
2. Pulpen - 3
3. Stabilo - 1
4. Klip buku - ada
5. Selotip - 2
6. cutter - 1
7. Stempel BB -1
8. Tinta stempel - 1
9. Bak Tinta - 1
10. Whiteboard - 1
11. Tempat Sampah - 2
12. Ember – 1
13. Sapu - 1
14. Pelubang kertas - 1
15. Binder - 1
16. Gunting - 2
17. Tipe ex - 2
18. Stempel Tanggal - 1
19. Lem - 1
20. Serutan - 1
21. Galon Air minum - 1
22. Rak buku - 5
23. Meja petugas - 2
24. Karpet - 2
25. Plastik mika bungkus buku - 1 rol

26. Kalender 2007 - 1
27. Tempat brosur/pamflet - 1

Labels:

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 11:58 PM   0 comments
Agenda Kegiatan/Activity Schedule
Berikut agenda kegiatan yang diselenggarakan oleh Beranda Buku dan kegiatan yang diikuti pengurus Beranda Buku di mana pengurus bertindak sebagai peserta:
No
Waktu
Nama Kegiatan
Pengurus
Tempat
Penyelenggara
1
Minggu, 17/12/2006 Jam 09.00-13.00
Launching Perpustakaan Beranda Buku
All Crew
Aula SMUN 1 Bale Endah
Beranda Buku
2
Sabtu, 25/11/06, 02/12/06, 09/12/06, 25/01/07
Workshop DISTRIBUTORSesi I - IV
Iin, Sandi
Perpustakaan Bale Pustaka dan Mizan Media Utama
Dipan Senja dan Lawang Buku
3

Sabtu, 06/01/07Jam 09.00 – 12.00
Tahun Internasional Planet Bumi 2007-2009
Fitri, Nita, Yani
Auditorium PSG Jl. Diponegoro 57 Bandung
Pusat Survey Geologi
4
Kamis-Rabu, 01/02/07 s.d 07/02/07
Pameran Buku Bandung
All
Landmark Braga
IKAPI Jabar
5
Jum’at-Selasa, 02/02/07 s.d 08/02/07
Pameran Buku Jogjakarta
Erma, Firman
Jogjakarta
IKAPI Jogja
6
Sabtu, 24/02/07Jam 19.00-21.00
Diskusi Besar & Launching 10 Buku FLP
Iin, Dina
Aula Serbaguna Departemen Pendidikan Nasional
Panitia Milad ke-10 Forum Lingkar Pena
7
Jum'at, 9/03/07
Jam 18.00-21.00
NEWS.COM NGE-KICK ANDY Off Air di Bandung
Iin, Teni, Nita
Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) Bandung
Metro TV
8
Sabtu-Minggu, 03/03/07 s.d 11/03/07
Islamic Book Fair Jakarta1428/2007
Irom
Gelora Bung Karno Istora Senayan Jakarta
IKAPI
9
22 Maret 2007
Pukul 16.00 – 18.00
Kamisan FLP Bandung ‘Membakar Toko Buku’
Yana
Koridor Timur Masjid Salman ITB
FLP Bandung
10
1 April 2007
Pukul 11.00-17.00
Pameran Buku Murah ‘Dengan Buku Mendorong Budaya Baca’
Yukni, Rina
Bank Mandiri
Jl. Soekarno Hatta 286 Bandung
Mandiri Club dan Kelompok Penerbit Gramedia
11
1 Maret 2007
Pukul 10.00 – 12.00
Obrolan Santai dengan Hernowo"Menuliskan Gagasan, Apa Saja yang Perlu Diperhatikan? "
Iin, Sandi
Gedung Alumni Jl. Singaperbangsa No. 1
Bandung
Klub Penulisan Hardim
12
27 Mei 2007 Jam 07.30-14.30
Try Out SPMB 2007
All Crew
Bimbel Primagama
Beranda Buku, Primagama, Risma Ciparay
13
Juni 2007 tiap Senin & Kamis Jam 09.00-12.00
Bimbel Intensif SPMB 2007 (Gratis)
All Crew
Perpustakaan Beranda Buku
Beranda Buku, Trustco
14
02 Juni 2007
Pameran Buku Jakarta
All Crew
Istora Senayan Jakarta
IKAPI
15
08 Juli 2007
Pameran Buku Murah Bandung
Rina, Teni, Yukni
Parisj Van Java
IKAPI
16
Pelatihan Kerja Gratis bagi Anggota BB
Juli-Agustus 2007 setiap Minggu Pukul 15.30 - 18.00
All Crew
Bale Endah
Beranda Buku & Trustco

17
Buka Bareng Beranda Buku Ramadhan 1428 H
Sabtu, 29/09/2006 Pukul 15.30 - 19.00
All Crew & Anggota
Perpustakaan Beranda Buku
Beranda Buku


Labels:

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 11:28 PM   0 comments
Wednesday, June 06, 2007
Mengkaji Tetsuko Kuroyanagi, Menafasi Pemikiran Kobayashi

(Dalam Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela)

Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela, merupakan cerita kenang-kenangan masa kecil dari Tetsuko Kuroyonagi di suatu sekolah dasar. Totto Chan gadis kecil berumur 7 tahun, sulit diterima di sekolah umum karena hiperaktif. Sejak dikeluarkan dari sekolah lamanya, ia kemudian bersekolah di Tomoe Gakuen, sekolah dengan kelas-kelas gerbong kereta, dan di sanalah ia berjumpa dengan Sassaku Kobayashi. Latar belakang cerita adalah awal Perang Dunia II. Sekolah itu selesai riwayatnya bersamaan dengan peristiwa pemboman Amerika atas Jepang. Buku ini ia persembahkan untuk seorang pendidik, Sassaku Kobayashi, pendiri dan Kepala Sekolah Tomoe Gakuen. Buku tersebut telah menginspirasi banyak pendidik sampai sekarang, hingga menjadi acuan wajib sekolah-sekolah dasar di Jepang.

Makna yang dapat ditafsirkan dari cerita Tetsuko tentang sistem pendidikan yang ia terima di sekolah dasar adalah suatu pembebasan. Tepatnya, pendidikan yang membebaskan. Kobayashi lebih dulu memikirkan dan sudah mempraktikkan suatu sistem pendidikan yang membebaskan itu, ketika Paulo Freire, seorang tokoh terkenal dalam pendidikan yang membebaskan, mungkin masih menggelisahkannya.


Sebelum mendirikan sekolah dasar Tomoe Gakuen, Kobayashi melakukan studi dengan mengunjungi berbagai sekolah di Eropa selama dua tahun. Ia juga belajar euritmik dari Emile Jaques Dalcroze di Paris. Sebelumnya ia telah menamatkan sekolah musiknya di Departemen Pendidikan Musik di Universitas Seni dan Musik di Tokyo. Persahabatannya dengan komposer Dalcroze, melahirkan Asosiasi Euritmik Jepang selain sekolah Tomoe Gakuen yang ia dirikan tahun 1937 itu. Euritmik adalah semacam pendidikan tentang ritme. Ketika anak-anak mendengar ritme musik ini, mereka tidak hanya berhenti pada indra pendengaran, tapi juga belajar mengolahrasakan. Dalcroze menciptakan euritmik setelah melihat bagaimana anak-anak berlarian dan berloncat-loncatan. Irama musik ini khusus untuk olahraga. Bagi Kobayashi:
Euritmik adalah olahraga yang menghaluskan mekanisme tubuh; olahraga yang mengajari otak cara menggunakan dan mengendalikan tubuh; olahraga yang memungkinkan raga dan pikiran memahami irama. Mempraktikkan euritmik membuat kepribadian anak-anak bersifat ritmik; kuat, indah, selaras dengan alam, dan mematuhi hukum-hukumnya.

Kobayashi sangat yakin, euritmik yang diciptakan oleh Dalcroze adalah salah satu cara mengembangkan kepribadian anak-anak secara alamiah, tanpa terlalu dipengaruhi oleh orang dewasa.
Sekolah Tomoe yang didirikan Kobayashi mempunyai lambang dua tanda koma berwarna hitam dan putih yang berpadu membentuk lingkaran sempurna. Lambang itu mempunyai arti keselarasan tubuh dan pikiran, atau keseimbangan tubuh dan pikiran. Menurut Tetsuko:
Kobayashi tidak menerapkan sistem pendidikan yang berlaku umum saat itu. Yaitu sistem pendidikan yang menekankan pada kata-kata tertulis dan cenderung menyempitkan persepsi indrawi anak-anak terhadap alam. Sistem itu juga menghilangkan kepekaan intuitif mereka akan suara Tuhan yang pelan dan menenangkan, yaitu inspirasi.

Konsep berpikir tentang perkembangan alamiah anak juga sudah diterapkannya ketika ia mendirikan taman kanak-kanak sebelum Tomoe berdiri. Baginya, ia tidak ingin memaksa anak-anak tumbuh sesuai bentuk kepribadian yang sudah digambarkan. Dalam praktiknya di sekolah Tomoe, guru memberikan semua mata pelajaran yang ditulis di papan, dan setiap anak dapat memilih mana dulu yang ingin dikerjakan. Guru tinggal membantu, jika anak-anak mengalami kesulitan.


Kobayashi menekankan kepercayaan pada anak-anak untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, coba kau baca, apa yang kau pikirkan jika seorang anak kecil membuka tutup kakus [pada masa itu wc masih berbentuk kakus], lalu mengeluarkan seluruh kotoran ke permukaan tanah dengan gayung. Ia memang mempunyai alasan, mengambil dompetnya yang terjatuh di dalam bak penampungan kotoran, saat ia ingin tahu dan mengintip ke dalam lubang gelap bak kakus tersebut. Bagiku sulit dibayangkan, ada orang dewasa seperti Kobayashi yang bisa berkata dengan tenang: “Kau akan memasukkan kembali, kalau sudah selesai kan?” Mendapatkan respon seperti itu, Totto Chan pun memasukkan kembali kotoran dalam lubangnya, juga memasukkan tanah yang basah, kemudian meratakan tanah, menutup kembali lubang itu dengan rapi lalu mengembalikan gayung yang dipinjamnya dari gudang tukang kebun.

Kobayashi memahami, pendidikan adalah mengalami. Belajar tidak harus dalam ruangan seperti layaknya sekolah-sekolah lain. Gerbong kereta adalah ide yang sangat imajinatif, dan bersahaja. Sekolah tidak menggunakan seragam, dan bahkan dianjurkan dengan baju yang tidak bagus. Karena sekolah adalah main,dan memang main bagi anak-anak sangat intim dengan kotor dan kerusakan baju, sobek sana-sini.

Kobayahi juga memberikan afeksi dengan kedekatan emosianal pada anak-anak. Ia tidak berjarak. Ia pun memberikan peluang besar bagi anak-anak mengartikulasikan pikiran-pikirannya di depan banyak orang. Dan satu hal, ia mengajari bagaimana menghargai anak-anak perempuan. Ia juga memberi kesempatan bagi anak-anak yang secara umum dikatakan cacat tidak merasa rendah diri. Dalam suatu pelajaran renang, anak-anak dibiarkan telanjang, dengan tidak memaksa, ia menganjurkan itu. Ia menanamkan suatu pelajaran, supaya anak-anak yang mempunyai cacat tubuh sejak usia dini tidak minder dan berusaha menutupi kecacatannya dalam pakaian. Ia ingin anak-anak merasakan penerimaan orang lain terhadap kecacatannya. Kobayashi pun yakin, dalam dunia anak-anak, yang wajar adalah anak-anak yang punya rasa keingintahuan sesuai dengan usianya tentang perbedaan jenis kelamin.

Sistem pendidikan yang dipikirkan dan dipraktikkan Kobayashi menurutku merupakan suatu perlawanan terhadap sistem pendidikan yang tengah ada. Waktu itu sistem pemerintahan di Jepang menganut fasisme. Ambisi Jepang untuk menjadi Negara terkuat di Asia, menyeretnya bersekutu dengan Musolini dan Hitler. Model pendidikan Kobayashi, meskipun kecil dan sangat marjinal tapi bertentangan dengan sistem pendidikan yang telah ada. Meskipun demikian pemerintahan Jepang secara resmi tetap mengizinkan praktik pendidikan model Kobayashi. Bahkan di lingkungan Departemen Pendidikan Jepang, Kobayashi mendapat tempat dan sangat dihormati.

Menurut Tetsuko, diterimanya model pendidikan yang tidak konvensional itu, karena Kobayashi tidak mempublikasikan sistem pendidikannya, sehingga tidak mengundang perhatian banyak masyarakat. Setelah pemerintah Jepang yakin, bahwa model pendidikan Kobayashi, di tataran anak-anak itu tidak membawa akibat secara langsung bagi kestabilan politik Jepang.

Bagaimanapun pendidikan adalah aparat yang paling penting dalam menanamkan ideologi menurut Althusserl. Apalagi dengan model pendidikan yang menyenangkan baik yang dirasakan keluarga dan anak-anaknya, yang ditawarkan Kobayashi: mengajarkan empati pada orang lain, rasa tanggung jawab, jiwa altruis, menghargai sesama, tidak rasialis [diajarkan oleh ibu Totto Chan pada putrinya, saat menghadapi diskriminasi orang korea di komplek rumahnya], mengajarkan open mind [saat kedatangan anak Jepang pindahan dari sekolah di Amerika, Kobayashi mengajarkan menerima dan memberi, sikap berbagi, meskipun suasana saat itu Jepang sedang memusuhi yang berbau Amerika]. Namun menurut Althusser, kebaikan guru yang langka ini tanpa disadari telah dimanfaatkan oleh sistem kapitalisme yang kelak tertancap kuat di Jepang setelah kekalahannya pada PD II, dan era restorasi. Hasil-hasil pendidikan Kobayashi toh pada akhirnya bermuara pada produksi; baik buruh maupun intelektual buruh kolektif, agen-agen eksploitasi, dan agen-agen represi.

Alangkah skeptisnya Althusserl dalam hal ini. Andai pendidikan yang membebaskan pun pada akhirnya terikat suatu ketidakmerdekaan, alangkah sia-sianya orang memikirkan itu, baik Kobayashi maupun beberapa tahun sesudahnya, seperti halnya Paulo Freire di Brazil.

Tetsuko sekarang sudah berusia kurang lebih 74 tahun. Tahun 1996, dia masih menjadi pemandu acara Talk Show di salah satu stasiun televisi Jepang, dan menjadi duta Unicef [berdasarkan surat balasannya pada The National Book Trust di India yang mengundangnya untuk datang ke India]. Bukunya memang membuat sejarah dalam dunia penerbitan Jepang waktu itu pada era 1980-an, yaitu terjual 4.500.000 kopi dalam setahun setelah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Buku ini tidak hanya semata-mata menguntungkan secara ekonomi. Tapi aku melihat dampak yang luas, model pendidikan Kobayashi ini dibaca oleh orang-orang seantero dunia. Meskipun sistem pendidikan di Jepang, masih juga sama dengan di Indonesia dengan memberikan beban begitu besar pada anak-anak dengan tugas, tapi buku ini telah sampai ke sekolah-sekolah Jepang. Di Jepang, buku ini juga dibaca oleh anak-anak berumur tujuh tahun, meskipun menurut Tetsuko, masih menggunakan kamus untuk kata-kata yang sukar.

Aku juga berpikir sama dengan Tetsuko, memimpikan suatu model pendidikan yang membebaskan. Tidak rasis, tidak seksis, tidak membunuh potensi alamiah pada diri manusia. Totto Chan yang hiperaktif, yang pernah dikeluarkan dari sekolah konvensional, dengan model pendidikan Kobayashi, ia telah menjadi sosok yang dapat mengembangkan kemanusiaannya. Kepercayaan yang ditanamkan Kobayashi seperti; “Kau itu anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan?,” terinternalisasi dalam dirinya sehingga menjadi semacam mantra bagi diri sendiri untuk mewujudkannya.

Untuk Akira Takahashi, seorang anak yang punya cacat tubuh yang tidak bisa berkembang normal, ketika di Tomoe, Kobayashi selalu merancang olahraga yang pasti dapat dimenangkan Takahashi dan membuatnya mempunyai kebanggaan pada dirinya. Setelah dewasa Takahashi bekerja sebagai manajer Personalia di perusahaan elektronik. Tapi tidak berhenti pada skeptisisme Althusser, ketika menjadi manajer Personalia, ia mampu mendengar keluhan-keluhan orang lain, dia bertanggung jawab atas hubungan harmonis di antara sesama pekerja .Ia sendiri tumbuh menjadi pribadi periang dan tidak bermasalah dengan cacat tubuhnya.

Bagi Kunio Oe, anak laki-laki yang waktu kecil pernah dinasehati Kobayashi untuk menghargai perempuan, setelah menarik kepang Totto Chan, setelah dewasa menjadi ahli anggrek spesies Timur Jauh, ia sangat disegani di seluruh Jepang. Tapi yang menarik adalah, setelah sekolah dasar Tomoe terbakar, ia tidak melanjutkan sekolah ke manapun. Ia menekuni bidang yang digeluti orang tuanya sebagai petani anggrek. Keuletannya adalah jawaban bagi Althusserl, bahwa jerih payah pemikiran dan kerja keras Kobayashi selama menanamkan pendidikan yang membebaskan, tidak bisa dipandang dengan belas kasihan, terjebak pada suatu sistem. Keuletan, kedaulatan pada pilihan hidupnya sendiri, dan empati yang mendalam pada lingkungannya, adalah kemerdekaan yang tak terbahas dalam ideologi Althusser.

By Dina A.S.
Kukusan, 26 April 2007



Labels:

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 8:56 PM   1 comments
Bibliohisme: Gila Buku atau Karena Buku Jadi Gila
Menggilai buku adalah wajar-wajar saja. Tentu dalam tahap yang tidak mengkhawatirkan. Namun, ada kasus di mana orang bisa gila karena buku atau menggilai buku secara berlebihan.

Boulard, seorang ahli hukum asal Perancis yang hidup pada abad ke-18, begitu bernafsu membeli buku. Sampai rumahnya tak cukup untuk menampung buku-bukunya, bahkan ia membeli enam rumah lagi untuk buku-bukunya. Sampai meninggalnya, Boulard memiliki 600 ribu sampai 800 ribu jilid buku. Dan ketika diloakkan, semuanya baru habis setelah lima tahun. Kegilaannya adalah Boulard tak membaca buku-buku tersebut.

Richard Heber, asal Inggris dan hidup pada abad ke-19, mirip dengan Boulard. Koleksinya yang berjumlah 200 ribu sampai 300 ribu buku, memaksa ia memiliki delapan rumah. Bedanya dengan Boulard, ia membeli dan selalu membaca buku-bukunya bahkan sampai akhir hayatnya.

Biblioholisme adalah hasrat untuk membeli, membaca, menyimpan, dan mengagumi buku yang cenderung berlebihan. Pelakunya disebut biblioholik. Tom Raabe, dalam buku "The Literary Addiction" (Fulcrum Publishing, 1991), menyebutkan ada dua jenis biblioholisme, yaitu bibliomania (gila buku) dan bibliofil (cinta buku).

Yang membedakan keduanya adalah motivasi. Seorang bibliomania membeli buku hanya untuk menumpuknya, seperti halnya Boulard. Sedang bibliofil mengharap dapat menguras isi dan kebijakan dari buku-bukunya, contohnya Heber.

Kasus kegilaan lain yang terkait dengan buku adalah yang dialami David Chapman diketahui membaca berulang-ulang novel The Catcher In The Rye karya J.D. Salinger sebelum menembak mati musisi besar John Lennon. Novel itu adalah sebuah novel yang dipenuhi dengan bahasa-bahasa kemarahan dan sempat tidak boleh diajarkan di sekolah-sekolah Amerika Serikat. Chapman tidak dijatuhi hukuman mati karena dianggap gila ketika melakukan pembunuhan itu. Entah dia gila karena novel itu atau hal lain, yang jelas novel tersebut memiliki peran dalam perbuatannya.

Selain itu, ada buku-buku yang ditulis para penulis yang kerap diklasifikasikan sebagai orang gila. Donatien Alphonse François, yang tenar dengan nama Marquis de Sade (2 Juni 1740-2 Desember 1814) adalah bangsawan, penulis filsafat dan pornografi dengan kekerasan --istilah "sadisme" diturunkan dari namanya. Sade ditahan di beberapa penjara dan rumah sakit jiwa selama 29 tahun hidupnya, walaupun ia tidak pernah secara teknis didakwa melakukan kejahatan apa pun.

Sade adalah penulis yang gigih. Ketika tak diizinkan memiliki tinta dan kertas, ia menulis dengan tinta darurat, yang seringkali dibikin dari darahnya sendiri, dan menulis pada lembaran selimut. Karya-karyanya kemudian diselundupkan keluar oleh seorang gadis pekerja institusi tersebut dan diantarkan ke sebuah penerbit. Warga Paris pun terus mendapatkan pasokan cerita-cerita karya Sade. Penguasa kemudian berusaha membungkam sang Marquis dengan segala cara.

Sade dipisahkan dari sesama penghuni rumah sakit jiwa, bahkan disiksa dengan kejam oleh seorang dokter jiwa kenamaan, dan terakhir ia dikurung dalam keadaan bugil. Toh Sade tak surut semangatnya. Dalam keadaan bugil dan sendiri, ia menulis karyanya di tembok bui dengan kotorannya. Otoritas memutuskan untuk merantai dan memotong lidah Sade. Ia akhirnya mati di dalam bui.

Kemudian ada Dr W.C. Minor. Dia bukan seorang penulis buku, melainkan seorang pensiunan dokter di ketentaraan Amerika yang kemudian menjadi seorang pembunuh dan dipenjara di sebuah rumah sakit jiwa di Inggris. Dari balik jeruji sel ia mampu tampil sebagai kontributor untuk lebih dari sepuluh ribu kata dalam penyusunan kamus babon Oxford English Dictionary. Cerita hidupnya dikisahkan Simon Winchester dalam novel The Profesor and The Madman (Sang Profesor dan Orang Gila, Serambi, 2007).

Lebih lanjut Tom Raabe mengatakan, mengemukakan beberapa "penyakit jiwa" aneh menyangkut buku, ada bibliotaf, bibliokas, bibliofagi, dan biblionarsisis.

Seorang bibliotaf meminta saat ia mati nanti, ia dikuburkan dengan buku-bukunya, dengan peti mati terbuat dari kayu bekas rak bukunya. John Stewart meminta pembacanya menyimpan buku-bukunya dengan sebaik-baiknya. "Tempatkan dalam kotak anti-lembab, kuburkan sedalam tiga meter, dan rahasiakan tempatnya kecuali kepada orang kepercayaanmu," imbaunya.

Penderita bibliokas inginnya menghancurkan buku. Pernahkah kita datang ke perpustakaan atau pinjam buku teman, lalu ada halaman yang menarik dan kita tak tahan jika tak memilikinya, karenanya kita menyobek halaman itu. Beberapa orang terkenal pun punya kecenderungan bibliokas. Chares Darwin membelah buku tebal menjadi dua agar mudah menentengnya kemana-mana. Dan, tentu saja, bibliokas yang parah biasanya penguasa yang terlalu percaya pada kekuatan buku, dan memerintahkan membakar buku-buku yang tak disukai.

Bibliofagi yaitu orang yang suka makan buku. Sebagian orang pernah membakar buku pelajaran, abunya dicampur kopi lalu diminum dengan harapan isi buku itu menghunjam ke otaknya. Contoh lain, daripada dihukum pancung seorang penulis dari Skandinavia memilih pura-pura gila dengan memakan bukunya setelah direbus dalam air daging. Lebih malang lagi adalah Isaac Volmer yang juga harus makan bukunya tapi tanpa dimasak dulu. Atau Theodore Rinking, yang hidup pada abad 17, menerima tawaran memakan buku kontroversialnya --dan ia memesan saus khusus-- agar bebas dari penjara.

Yang terakhir, dan paling banyak penderitanya, adalah biblionarsisis (biblionarcissist). Dalam mitologi Yunani, kita tahu, Narcissus adalah seorang pemuda yang amat tampan --sampai-sampai ia jatuh cinta pada ketampanannya yang ia lihat terpantul dari sebuah kolam. Terus menerus di pinggir kolam, tak makan dan minum, ia akhirnya mati, dan berubah menjadi bunga Narsisis. Biblionarsisis kurang lebih seperti ini, ia mengkoleksi buku hanya untuk berlagak, bermegah-megah, pamer, dan mengagumi diri sendiri. Menurut agama, itu riya' (atau kita ganti saja istilahnya menjadi biblioriya'?).

Sumber dari
http://www.mizan.com/portal/template/BacaSelisik/kodeselisik/218
http://www.indonesiaindonesia.com/f/14286-buku-kegilaan/
http://findingrita.blogspot.com/2006/02/biblioholisme.html




Labels:

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 8:13 PM   0 comments
Tuesday, June 05, 2007
Memandang Seni Fotografi, Membahasakan Realitas
(Dari Pameran Fotografi Common Ground: Aspek Pengalaman Muslim kontemporer )

Sejarah Fotografi
Sejarah fotografi saat ini, berhutang banyak pada beberapa nama yang memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan fotografi sampai era digital sekarang. Kita mencatat nama Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab yang menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil pada tahun 1000 M. Kurang lebih 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci, juga menulis mengenai fenomena yang sama. Namun Battista Delta Porta, juga menulis hal tersebut, sehingga kemungkinannya dia yang dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya, Camera Obscura.

Awal abad 17, Ilmuwan Italia, Angelo Sala menemukan bahwa bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam. Bahkan saat itu, dengan komponen kimia tersebut, ia telah berhasil merekam gambar-gambar yang tak bertahan lama. Hanya saja masalah yang dihadapinya adalah menyelesaikan proses kimia setelah gambar-gambar itu terekam sehingga permanen. Pada 1727, Johann Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman, juga menemukan hal yang sama pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya dan bukan oleh panas. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang Inggris, bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra yang telah melalui lensa pada kamera obscura yang sekarang ini disebut kamera, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya ia berkonsentrasi sebagaimana juga Schuize, membuat gambar-gambar negatif, pada kulit atau kertas putih yang telah disaputi komponen perak dan menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran.


Tahun 1824, setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh berbagai orang dengan berbagai jenis pekerjaan dari berbagai negara. Akhirnya pria Perancis bernama Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograf berhasil membuat gambar permanen pertama yang dapat disebut FOTO dengan tidak menggunakan kamera, melalui proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograf dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of judea, sebagai bahan kimia dasarnya. Kemudian dicobanya menggunakan kamera, namun ada sumber yang menyebutkan Niepee sebagai orang pertama yang menggunakan lensa pada camera obscura. Pada masa itu lazimnya camera obscura hanya berlubang kecil, juga bahan kimia lainnya, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Agustus 1827, Setelah saling menyurati beberapa waktu sebelumnya, Niepee berjumpa dengan Louis Daguerre, pria Perancis dengan beragam ketetrampilan tapi dikenal sebagai pelukis. Mereka merencanakan kerjasama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera.Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerja sama dengan Daguerre, tapi Niepee meninggal dunia pada tahun 1833. Dan tanggal 7 Januari 1839,dengan bantuan seorang ilmuwan untuk memaparkan secara ilmiah, Daguerre mengumumkan hasil penelitian. Penelitiannya selama ini kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis. Hasil kerjanya yang berupa foto-foto yang permanen itu disebut DAGUERRETYPE, yang tak dapat diperbanyak / reprint /repro. Saat itu Daguerre telah memiliki foto studio komersil dan Daguerretype tertua yang masih ada hingga kini diciptakannya tahun 1837.
Tanggal 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memaparkan hasil penemuannya berupa proses fotografi moderen kepada Institut Kerajaan Inggris. Berbeda dengan Daguerre, ia menemukan sistem negatif-positif ( bahan dasar : perak nitrat, diatas kertas). Walau telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana seperti apa yang sekarang kita istilahkan : Contactprint (print yang dibuat tanpa pembesaran / pengecilan) dan dapat diperbanyak.

Juni 1840, Talbot memperkenalkan Calotype, perbaikan dari sistem sebelumnya, juga menghasilkan negatif diatas kertas. Dan pada Oktober 1847. Abel Niepee de St Victor, keponakan Niepee, memperkenalkan pengunaan kaca sebagai base negatif menggantikan kerta. Pada Januari 1850. Seorang ahli kimia Inggris, Robert Bingham, memperkenalkan penggunaan Collodion sebagai emulsi foto, yang saat itu cukup populer dengan sebutan WET-PLATE Fotografi.

Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan roll film mulai dikenal. Juni 1888, George Eastman, seorang Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia hasilpenelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan, yang telah berisi roll film (dengan bahan kimia Perak Bromida) untuk 100 exposure. Bila seluruh film digunakan, kamera (berisi film) dikirim ke perusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi roll film yang baru. Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa.Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan roll film. Itulah perkembangan dunia fotografi hingga masuk era digital.

Fotografi Membahasakan Realitas
Fotografi merupakan seni karena tidak saja mengabadikan realitas dalam gambar yang berasal dari permukaan dalam sebuah ruang gelap, tapi lebih dari itu, fotografi memberikan nilai puitis bahasa gambar yang menurut Roland Barthes, dalam semiologi tidak pernah “innocent” karena gambar-gambar tersebut merangkai suatu sistem pertanda yang dapat ditangkap. Gambar-gambar tersebut selalu mempunyai tujuan disebaliknya. Sedangkan memandang realitas dalam foto menurut Barthes dalam Seno Gumira adalah:
Proses memotret itu sendiri, demikianlah Roland Barthes, sebetulnya merupakan proses penghancuran subyek yang dipandang, sebelum akhirnya dihadirkan kembali analoginya di kertas foto dua dimensi. Seolah-olah terjadi reduksi realitas, tetapi sebenarnya berlangsung penafsiran kembali. Seorang pemandang menatap subyek yang dipotret melalui mata seorang fotografer, dan tidak bisa lain.

Memandang realitas dalam foto meskipun melalui mata photografer bukan berarti tidak memberi ruang bagi pemandangnya. Ruang interpretasi di mana suatu peristiwa telah dipilih oleh photografer untuk diabadikan, membawa pada pemaknaan baru justru ketika pemandang bertanya kenapa adegan itu yang dipilih, mengapa photografer menonjolkan suatu sisi, mengapa komposisi warnanya demikian, dan bahkan setelah diletakkan dalam suatu ruang instalasi seni, kita masih bisa bertanya lebih lanjut mengapa susunan photo dalam ruang begitu, dan lain-lain yang kemudian akan ditemukan makna mengapa pameran ini diadakan, dan oleh siapa, mengapa dan seterusnya.

Fotografi sebagai alat komunikasi yang tentu saja tidak dapat ditolak kehadirannya sebagai sebuah teknologi yang berkembang pesat. Pesan inilah yang ingin disampaikan dalam pameran fotografi “Common Ground” yang diselenggarakan di Malaysia dan Bangladesh dan disponsori oleh British Council. Pameran ini mengetengahkan tema keberagaman Islam dengan judul ‘Common Ground: Aspek Pengalaman Muslim Kontemporer’ sebagai bagian dari program ”Connecting Futures’. Program ini menurut Dr. Muriel Dunbar, Direktur British Council Indonesia, bertujuan untuk mengembangkan rasa pengertian antara beragam manusia di dunia, terutama kaum muda. Tujuan ini menurut saya tepat mengingat realitas masyarakat di dunia ini memang sangat beragam. Keberagaman yang ada selama ini begitu rapuh, sehingga dengan alasan apapun mudah sekali untuk saling mencurigai dan memusuhi daripada mengembangkan sikap berbagi kasih dan menyemai perdamaian. Mengutip kata Peter Sanders, Fotografer Legendaris Inggris, kita “mengetahui bahwa selalu ada alasan untuk membenci tetapi selalu tidak cukup alasan untuk mencintai.”

Membaca catatan yang ditulis oleh kurator pameran ini tentu sangat menarik. Pertama kurator mengemukakan ihwal fotografi itu sendiri yang dalam perkembangannya di Indonesia sempat menuai pelarangan karena alasan-alasan tertentu, namun akhirnya teknologi yang bergerak dinamis seperti kamera, tidak dapat ditolak kehadirannya, dan justru membantu memperkaya khazanah budaya Islam. Kedua, ada kalimat eksplisit yang ia katakan bahwa jilbab, sorban, tidak identik dengan terorisme. Kurator memberi catatan ini sebagai penegasan tema yang disampaikannya lewat photo-photo yang ia pamerkan, bahwa Islam membawa perdamaian, bukan agama yang menjadi biang-keladi konflik seperti yang marak dibicarakan terutama setelah peristiwa 11 September. Bagaimana sebenarnya photo-photo ini berbicara? Saya akan memasuki ruang pameran dan melihat lapisan makna denotasi dan konotasi yang ditawarkan Barthes.

Pameran ini yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya mempunyai 8 Sub-judul yang mengetengahkan karya-karya Fotografer Indonesia dan Fotografer Inggris. Gambaran tentang kedua masyarakat muslim tersebut dipisahkan dalam ruang yang berbeda. Ruangan yang berisi instalasi foto-foto karya anak-anak bangsa Indonesia menampilakan Arizona Sudiro dengan judul karyanya “Di Tengah Pendosa“; Firdaus Fadlil berbicara tentang “Musik Islami“; Angki Purbandono dalam “Mode Perempuan Muslim Indonesia“; Muhamad Iqbal dalam “Peziarah“; Ray Bachtiar dengan foto-fotonya berjudul “Iqro“; dan Bodi Chandra dalam, “Komunitas Muslim Tionghoa“. Sedangkan karya yang mewakili masyarakat Inggris adalah Peter Sanders dengan judul “The Art of Integration“. Pilihan-pilihan judul tersebut secara garis besar dapat dibayangkan sebagai gambar-gambar yang akan menceritakan kehidupan berbudaya masyarakat Muslim sehari-hari dan bagaimana Islam sebagai suatu keyakinan mereka jalani.

Keseimbangan Hitam-Putih dalam Di Tengah Pendosa
Saya hanya akan membahas dari foto-foto yang disusun dari sayap sebelah kanan, yaitu karya-karya milik Arizona Sudiro “Keseimbangan“ di antara Hitam dan Putih dalam “Di Tengah Pendosa”
Foto-foto karya Sudiro bercerita tentang kampung pelacuran Saritem yang sangat terkenal di Bandung. Di tengah kampung itu kemudian berdiri satu pesantren Daar-Taubah. Foto-foto yang ditampilkan adalah anak-anak pesantren Daar-Taubah yang semuanya laki-laki dengan kegiatan belajarnya. Hanya satu foto yang menampilkan santri perempuan, yaitu foto yang menceritakan dua orang santri perempuan yang berpapasan dengan pekerja seks yang melintas di depan Masjid Daar-Taubah. Kemudian ada foto-foto jemuran di pagar, dengan berlatar belakang jemuran perempuan, dan atap-atap rumah penduduk di daerah marjinal dengan antena televisi di atasnya. Foto jemuran itu diantara kompleks pelacuran itu dilihat dari dua sisi. Lalu karya Sudiro yang lain, ada foto yang memaparkan seorang pekerja seks dengan pasangannya, seorang bocah yang memanjat genting, dan foto seorang ibu yang memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain dan belajar di Pesantren Daar Taubah. Foto-foto tersebut dalam komposisi warna hitam dan putih.

Saya pernah mendengar rumor konon pembangunan masjid di dekat kompleks pelcuran Saritem di Bandung, salah satunya mendapat sumbangan dari pekerja seks di Saritem. Terlepas benar atau tidaknya rumor ini, saya melihat bagaimana Sudiro memaknai kehidupan hitam dan putih dalam masyarakat setempat di dekat kompleks pelacuran Saritem. Kehidupan hitam kaum pekerja seks dan kehidupan putih –Pesantren begitu paradoks bercampur dalam satu masyarakat. Sudiro memandang, percampuran ini bukan suatu yang nista.

Dalam suatu foto tentang anak pesantren yang berjalan di atas atap, saya mendapat kesan, jika ia tak berusah amenyeimbangkan dirinya, ia akan jatuh. Tapi foto-foto yang menarik bagi saya adalah jemuran di atas pagar kawat yang memisahkan pesantren dengan kompleks pelacuran. Pagar kawat itulah batas, atau dimaknai sebagai norma yang diajarkan dalam pendidikan agama di Pesantren. Jemuran itu kebanyakan terdiri atas handuk, celana dalam laki-laki dan celana bicycle pen laki-laki, serta sebuah kaos. Sementara latar di belakangnya adalah jemuran baju tidur perempuan, dan antena televisi yang menggambarkan dunia modernitas, keglobalan. Pagar ini nampak begitu riskan, setidaknya ketika ia difungsikan juga sebagai jemuran baju laki-laki, laki-laki dianggap Sudiro sebagai sosok manusia yang bisa memfungsikan norma-norma itu untuk kekuasaannya dan laki-laki lah yang rentan terhadap pelanggaran setidaknya hanya dengan memandang jemuran baju tidur perempuan pekerja seks di seberangnya, atau ketika di pagi hari dua sisi manusia itu masing-masing menjemur pakaian, suatu rutinitas manusia sehari-hari yang biasanya dilakukan di pagi hari, dan setidaknya di balik pagar itu mereka memandang.
Memandang yang di luar pagar adalah memandang dunia di perkampungan marginal yang juga memperlihatkan bagaimana menjamurnya antena televisi. Televisi bukan barang yang mewah lagi di daerah slum area sekali pun. Teknologi kotak yang juga menghasilkan gambar-gambar bergerak itu bukan tidak memberi sumbangan pada kehadiran kaum pekerja seks. Melalui televisi cara hidup masyarakat dijejali dengan ideologi-ideologi material, paham konsumtif, sementara di daerah-daerah marjinal konsumsi dalam keadaan perekonomian yang sedang tidak stabil, mengajak orang untuk berpikir pendek: bagaimana mempertahankan hidup dan eksistensinya bagi mereka. Proses mempertahankan hidup dan pencarian eksistensi dalam kaitannya dengan perekonomian masyarakat kelas marginal, dipotret oleh Sudiro dengan hanya menggunakan dua kaca mata:hitam-putih.

Komposisi hitam putih yang dipilih Sudiro dalam foto memberikan efek yang natural dan tegas. Tapi menurut Barthes, natural adalah yang dinaturalkan. Begitupun cara memandang Sudiro lewat karyanya. Dengan mengetengahkan foto-foto di atas tadi, dunia hitam putih yang tegas itu tegas pula memisahkan oposisi biner antara yang baik dan yang buruk. Meski pun menggambarkan keadaan yang bercampur dalam satu masyarakat, tapi dengan adanya dikotomi itu membuat posisi keduanya yang hitam dan putih itu tidak sejajar. Adanya pesantren itu mengukuhkan keberadaannya bahwa dunia di sebrangnya adalah hitam dan disebut dalam judul Di Tengah Dunia Pendosa, dunia hitam itu terpinggirkan.

Sudiro juga memandang perempuan dengan dikotomi perempuan baik-baik dan perempuan pekerja seks yanng pendosa. Foto seorang ibu dengan reprensatasi berjilbab memperhatikan anak-anak belajar dan bermain di pesantren, mempunyai makna ibu adalah penjaga moral generasi berikutnya. Perempuan yang ibu diharapkan adalah seorang perempuan baik-baik. Harapan seperti itu bagi saya tidak salah, tapi apakah kenyataan pada masyarakat kita yang bisa menjadi ibu hanyalah perempuan yang diseteoratifkan baik-baik? Dari brosur ada foto yang tidak direpresentasikan dalam pameran, sebaliknya tidak semua foto dalam pameran direpresentasikan dalam brosur.

Tapi saya ingin mengatakan bahwa Sudiro mempunyai foto tentang representasi ibu dan anak-anaknya, tapi ibu itu sehari-harinya bekerja sebagai pekerja seks. Anak-anaknya menjadi santri di Pesantren tetangganya. Sesuatu yang paradoksal ini menurut saya tidak harus dipandang hitam dan putih saja. Tapi tentunya masih ada aspek lain, ibu yang pekerja seks pun berharap anak-anaknya bermasa depan baik, mampu menjalankan agamanya dengan baik. Soal dirinya yang menjadi pekerja seks adalah pilihan yang mungkin terpaksa sebagai akibat dari benturan persoalan ekonomi, sementara satu sisi kemewahan yang ditawarkan televisi setiap hari yang mengiklankan diri di rumah-rumah mereka.

Dalam foto berpapasan antara santri dan pekerja seks, yang dibidik dalam photo tersebut, hanya berpapasan dan saling memandang. Saya membayangkan jika keduanya difoto saat sedang bersalaman atau terlibat dalam suatu kegiatan bersama. Kritik saya benarkah dalam kehidupan nyata bahwa dikotomi hitam dan putih ini membuat masyarakat yang seharusnya bercampur, membaur, pada akhirnya hanya memandang dan membedakan dirinya dari sisi baik dan buruk. Tidakkah ada sisi-sisi lain dimana mereka saling berbagi? Pagar sebagai suatu prinsip memang perlu ada. Keseimbangan memang dibutuhkan. Pesantren yang sederhana dan mengajarkan pola hidup terkontrol, tidak saja berorientasi materi, memang dibutuhkan untuk mempertahankan diri dari serangan iklan kemewahan yang ditawarkan pasar global lewat televisi. Tapi saya kira dalam kenyataan sehari-hari suatu masyarakat pasti pernah merasakan suka duka kebersamaan antara sesamanya. Saya kira perempuan pekerja seks juga membayar iuran RT dan lain-lain yang digunakan juga secara bersama-sama oleh masyarakat untuk kepentingan bersama.

Jika pilihan Sudiro pada karya-karyanya tersebut dianggapnya paling sesuai dengan kondisi natural masyarakat, saya menganggap bahwa masyarakat tersebut adalah naturisasi Sudiro yang direpresentasikan lewat foto-fotonya.Sudiro adalah bagian dari msyarakat, produk masyarakat yang kebanyakan masih memandang kenyataan sebagai hitam-putih. Hitam dan putih itu telah menginternalisasi dalam diri individu, tegas dan berjarak. Tema yang yang diusung Sudiro sebenarnya menurut saya tidak selaras dengan tema besar yang diusung oleh “Common Ground” bahwa kolaborasi budaya di bidang seni merupakan salah satu jalan untuk memupuk saling pengertian antar budaya. Tapi justru inilah yang menarik dari pameran fotografi ini. Pameran ini mampu merepresentasikan berbagai pengalaman muslim era kontemporer terutama di Indonesia. Pameran ini sendiri merupakan potret realitas kehidupan beragama masyarakat kita yang meminjam istilah Muhamad Sobary “mewakili ciri sosiologis dan ciri eksoteris Islam bagi fotografer”.

By Dina A.S.

Labels:

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 8:36 PM   1 comments
Monday, June 04, 2007
Pendidikan Tinggi atau Pekerjaan ????
Hari ini saya membaca artikel dari teman, tepatnya di muat di Kompas (07/05/2007). Artikel tersebut menceritakan beberapa orang yang terpaksa bekerja serabutan dan tidak sesuai dengan keahliannya lantaran kena dampak PHK di tempat kerjanya. Beberapa dan hampir sebagian di antara mereka adalah tenaga – tenaga terlatih dan berpendidikan tinggi, bahkan ada yang pernah menjalani studi di luar negeri. Namun, kesempatan kerja yang sedikit serta umur yang beranjak tua membuat mereka tidak diterima lagi untuk bekerja sesuai dengan keahliannya. Pekerjaan – pekerjaan informal dan tidak banyak dihargai orang diantaranya seperti tukang cat, jualan gorengan, buka warung kopi, tukang es krim dan bahkan menjadi supir panggilan dengan upah ala kadarnya dan sangat di bawah standar.

Langkanya ketersediaan lapangan kerja, memang sudah menjadi hal klasik di negeri tercinta di mana puluhan ribu lowongan kerja harus diperebutkan oleh berjuta orang pencari kerja. Dahulu kala, seorang sarjana begitu dihargai di sini, tetapi sekarang banyak sekali sarjana yang menganggur. Beberapa kalangan mengkritisi metoda pendidikan di Perguruan Tinggi (PT) yang tidak membuat mahasiswanya kreatif dan setelah keluar dari PT tersebut dia tidak bisa mengembangkan kemampuannya secara mandiri.
Kalangan wirausahawan berusaha menarik kelompok – kelompok pencinta usaha mandiri ini dan pada akhirnya beberapa pelatihan khusus kewirausahawan di buka dimana – mana. Pelatihan motivasi menjadi pengusaha sukses, kiat-kiat menjadi wirausahawan sejati saat itu booming di masyarakat. Keinginan dan euphoria yang sesaat tersebut telah melembaga di hati orang – orang yang idealis. Termasuk di dalamnya salah satu teman saya. Dia rela keluar dari sebuah PT bonafid di Bandung demi sebuah cita – cita menjadi pengusaha sukses. Dia merasa, pendidikan membuatnya terpenjara karena tidak ada kebebasan dalam menentukan pilihan, atau kata kerennya the slave of education. Dengan begitu, dia telah mengecewakan beberapa orang terdekat yang selama ini menopang hidupnya. Anehnya, dia tetap aja dengan percaya diri melangkah tanpa memperdulikan beberapa kritikan atau bahkan makian dari orang yang telah dikecewakannya. Beberapa usaha telah dia tekuni yang pada akhirnya gagal di tengah jalan. Memang, semuanya tidak ada yang serba instan dan langsung berhasil. Pengusaha yang sukses pun telah mengalami beribu penderitaan, sebelum dia meraih sukses. Begitu dia selalu berujar.
Ada lagi teman saya terbawa dengan euphoria seorang pengusaha. Dengan sedikit modal, dia bergabung dengan temannya. Dengan modal 20 juta, mereka membuka cabang sebuah perusahaan jasa pengiriman barang di Bandung. Beberapa perjanjian sederhana telah dibuat dan disepakati. Dia mendapatkan modal tersebut dengan meminjam uang dari bank yang harus ia lunasi selama 3 tahun. Tahun pertama berlalu, dan dia merasa sedikit puas telah mengamalkan ilmu berwirausaha dengan baik. Namun, pembayaran tahun kedua mulai tidak lancar dan temannya sering mengeluhkan keadaan perusahaan yang sering kollaps gara – gara kurangnya modal dan beberapa masalah intern keluarga. Akhirnya, berita buruk itu pun datang. Partnernya mengatakan bahwa perusahaannya bangkrut dan dia berjanji akan mengembalikan modal sebesar 10 juta 6 bulan kemudian, dan tinggal teman saya yang masih menanggung cicilan di bank dalam dua tahun ke depan. Dari situ saya berpikir, bahwa tekad wirausaha saja tidak cukup. Perhitungan yang matang, bakat terutama dari latar belakang keluarga sangat mendukung. Karena, keluarga adalah tempat di mana orang tua menanamkan nilai – nilainya pada kita. Walaupun saat ini kita hidup di dalam lingkungan yang berbeda. Tapi, masa kecil akan selalu kita ingat dan itu sangat tertanam kuat dalam setiap langkah kita. Tidak ada jalan untuk mengeluh, yang ada hanya kita berusaha untuk menatap masa depan dan menghadapi kenyataan yang ada.
Kembali lagi ke masalah penguasaan bisnis atau wiraswasta. Saya kira mereka yang berkeahlian tinggi punya spesifikasi kerja sesuai dengan bidangnya dan tidak bisa disamakan dengan seorang wirausahawan. Mereka membutuhkan sebuah perusahaan atau badan yang menyediakan beberapa kegiatan yang menunjang keahlian mereka. Karena notabene mereka adalah orang – orang teknik, bukan manajemen. Saya kadang kurang setuju juga dengan beberapa pernyataan bahwa menjadi pegawai adalah budak uang atau pernyataan seperti “ uang yang bekerja untuk kita dan bukan kita yang bekerja untuk uang”. Seperti yang Robert Kiyosaki bilang, awalnya saya menggemari buku tersebut, tetapi saat ini tidak semua yang dikatakan dia benar. Tidak semuanya menjadi pegawai itu jelek. Tetapi lebih kepada keadaan yang ada dan keahlian yang menunjang. Kalau semuanya ingin menjadi bos dan manajer lalu siapa yang akan menjadi pegawai??? Walau pun, booming emoh jadi pegawai melanda masyarakat. Tetapi banyak saja yang mencari lowongan – lowongan di beberapa perusahaan atau paling gampangnya di instansi – instansi pemerintahan. Semua lamaran pasti diserbu habis apalagi bagi yang mendambakan ketenangan dan jaminan di hari tua.
Kembali lagi dengan keadaan di Indonesia. Modal bertekad menjadi wirausaha sepertinya agak tersendat karena keterbatasan modal. Kita lihat, beberapa sektor ekonomi penting dan aset – aset perusahaan yang bonafid kebanyakan dikuasai oleh para konglomerat yang bahkan kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan sekalipun. Kita yang mempunyai level finansial di bawah mereka, secara wajar dan sadar menghamba kepada mereka menjadi pegawai di perusahaannya. Dan kita lihat, siapa yang bermental pengusaha?? Yang pasti anak – anaknya. Mereka sudah dididik menjadi manajer dan pemimpin perusahaan. Jadi memang itulah kenyataannya.
Tapi, di atas itu semua, kita harus menghargai semua profesi yang ada dan tidak menganggap rendah profesi yang lain termasuk didalamnya seorang pegawai atau yang bermental pegawai atau orang yang bekerja sebagai bawahan atau seseorang yang berpendidikan tinggi dan pada akhirnya menjadi pegawai.. Semua mempunyai pilihan, dan lihatlah, mereka yang menang adalah mereka yang berani dan selalu mensyukuri apa yang mereka dapatkan sekarang. Tidak ada yang salah di antara semuanya. Ini tergantung dari sudut pandang mana kita melihat sebuah permasalahan. Itu saja.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kenyataan yang penulis hadapi dan melihat dari beberapa kasus yang cukup beralasan.***Afitchan-Perth***07/05/2007

Labels:

Baca Semua...
posted by Beranda Buku @ 11:46 PM   0 comments

Dukung Gerakan Literasi Kami/Support our Literacy Movement
Kunjungi blog kami secara regular. Berikan komentar/Visit this site regularly. Please leave a comment
Kirimkan donasi Anda berupa buku2, finansial atau sarana/Send your donation, books, financial and/or other library inventories
Donasi dapat dialamatkan ke SINI /Send your donation HERE

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Comment Please!!
Name :
Web URL :
Message :


Blog Perpustakaan

Archives
Menu
Friends & Associates
Templates by
Free Blogger Templates

Pembelajar sejati adalah pembelajar sepanjang kehidupan berdetak dalam ribuan warna musim dengan senyuman ingin tahu Ibrahim menanyakan siapa diri, menanyakan siapa Tuhannya . A lifelong learner is a learner for as long as his/her heartbeat still in a thousand of color of seasons with a smile of Abraham asks who he is, asking who his lord is.