Beranda Buku

Tuesday, June 05, 2007
Memandang Seni Fotografi, Membahasakan Realitas
(Dari Pameran Fotografi Common Ground: Aspek Pengalaman Muslim kontemporer )

Sejarah Fotografi
Sejarah fotografi saat ini, berhutang banyak pada beberapa nama yang memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan fotografi sampai era digital sekarang. Kita mencatat nama Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab yang menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil pada tahun 1000 M. Kurang lebih 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci, juga menulis mengenai fenomena yang sama. Namun Battista Delta Porta, juga menulis hal tersebut, sehingga kemungkinannya dia yang dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya, Camera Obscura.

Awal abad 17, Ilmuwan Italia, Angelo Sala menemukan bahwa bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam. Bahkan saat itu, dengan komponen kimia tersebut, ia telah berhasil merekam gambar-gambar yang tak bertahan lama. Hanya saja masalah yang dihadapinya adalah menyelesaikan proses kimia setelah gambar-gambar itu terekam sehingga permanen. Pada 1727, Johann Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman, juga menemukan hal yang sama pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya dan bukan oleh panas. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang Inggris, bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra yang telah melalui lensa pada kamera obscura yang sekarang ini disebut kamera, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya ia berkonsentrasi sebagaimana juga Schuize, membuat gambar-gambar negatif, pada kulit atau kertas putih yang telah disaputi komponen perak dan menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran.


Tahun 1824, setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh berbagai orang dengan berbagai jenis pekerjaan dari berbagai negara. Akhirnya pria Perancis bernama Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograf berhasil membuat gambar permanen pertama yang dapat disebut FOTO dengan tidak menggunakan kamera, melalui proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograf dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of judea, sebagai bahan kimia dasarnya. Kemudian dicobanya menggunakan kamera, namun ada sumber yang menyebutkan Niepee sebagai orang pertama yang menggunakan lensa pada camera obscura. Pada masa itu lazimnya camera obscura hanya berlubang kecil, juga bahan kimia lainnya, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Agustus 1827, Setelah saling menyurati beberapa waktu sebelumnya, Niepee berjumpa dengan Louis Daguerre, pria Perancis dengan beragam ketetrampilan tapi dikenal sebagai pelukis. Mereka merencanakan kerjasama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera.Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerja sama dengan Daguerre, tapi Niepee meninggal dunia pada tahun 1833. Dan tanggal 7 Januari 1839,dengan bantuan seorang ilmuwan untuk memaparkan secara ilmiah, Daguerre mengumumkan hasil penelitian. Penelitiannya selama ini kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis. Hasil kerjanya yang berupa foto-foto yang permanen itu disebut DAGUERRETYPE, yang tak dapat diperbanyak / reprint /repro. Saat itu Daguerre telah memiliki foto studio komersil dan Daguerretype tertua yang masih ada hingga kini diciptakannya tahun 1837.
Tanggal 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memaparkan hasil penemuannya berupa proses fotografi moderen kepada Institut Kerajaan Inggris. Berbeda dengan Daguerre, ia menemukan sistem negatif-positif ( bahan dasar : perak nitrat, diatas kertas). Walau telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana seperti apa yang sekarang kita istilahkan : Contactprint (print yang dibuat tanpa pembesaran / pengecilan) dan dapat diperbanyak.

Juni 1840, Talbot memperkenalkan Calotype, perbaikan dari sistem sebelumnya, juga menghasilkan negatif diatas kertas. Dan pada Oktober 1847. Abel Niepee de St Victor, keponakan Niepee, memperkenalkan pengunaan kaca sebagai base negatif menggantikan kerta. Pada Januari 1850. Seorang ahli kimia Inggris, Robert Bingham, memperkenalkan penggunaan Collodion sebagai emulsi foto, yang saat itu cukup populer dengan sebutan WET-PLATE Fotografi.

Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan roll film mulai dikenal. Juni 1888, George Eastman, seorang Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia hasilpenelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan, yang telah berisi roll film (dengan bahan kimia Perak Bromida) untuk 100 exposure. Bila seluruh film digunakan, kamera (berisi film) dikirim ke perusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi roll film yang baru. Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa.Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan roll film. Itulah perkembangan dunia fotografi hingga masuk era digital.

Fotografi Membahasakan Realitas
Fotografi merupakan seni karena tidak saja mengabadikan realitas dalam gambar yang berasal dari permukaan dalam sebuah ruang gelap, tapi lebih dari itu, fotografi memberikan nilai puitis bahasa gambar yang menurut Roland Barthes, dalam semiologi tidak pernah “innocent” karena gambar-gambar tersebut merangkai suatu sistem pertanda yang dapat ditangkap. Gambar-gambar tersebut selalu mempunyai tujuan disebaliknya. Sedangkan memandang realitas dalam foto menurut Barthes dalam Seno Gumira adalah:
Proses memotret itu sendiri, demikianlah Roland Barthes, sebetulnya merupakan proses penghancuran subyek yang dipandang, sebelum akhirnya dihadirkan kembali analoginya di kertas foto dua dimensi. Seolah-olah terjadi reduksi realitas, tetapi sebenarnya berlangsung penafsiran kembali. Seorang pemandang menatap subyek yang dipotret melalui mata seorang fotografer, dan tidak bisa lain.

Memandang realitas dalam foto meskipun melalui mata photografer bukan berarti tidak memberi ruang bagi pemandangnya. Ruang interpretasi di mana suatu peristiwa telah dipilih oleh photografer untuk diabadikan, membawa pada pemaknaan baru justru ketika pemandang bertanya kenapa adegan itu yang dipilih, mengapa photografer menonjolkan suatu sisi, mengapa komposisi warnanya demikian, dan bahkan setelah diletakkan dalam suatu ruang instalasi seni, kita masih bisa bertanya lebih lanjut mengapa susunan photo dalam ruang begitu, dan lain-lain yang kemudian akan ditemukan makna mengapa pameran ini diadakan, dan oleh siapa, mengapa dan seterusnya.

Fotografi sebagai alat komunikasi yang tentu saja tidak dapat ditolak kehadirannya sebagai sebuah teknologi yang berkembang pesat. Pesan inilah yang ingin disampaikan dalam pameran fotografi “Common Ground” yang diselenggarakan di Malaysia dan Bangladesh dan disponsori oleh British Council. Pameran ini mengetengahkan tema keberagaman Islam dengan judul ‘Common Ground: Aspek Pengalaman Muslim Kontemporer’ sebagai bagian dari program ”Connecting Futures’. Program ini menurut Dr. Muriel Dunbar, Direktur British Council Indonesia, bertujuan untuk mengembangkan rasa pengertian antara beragam manusia di dunia, terutama kaum muda. Tujuan ini menurut saya tepat mengingat realitas masyarakat di dunia ini memang sangat beragam. Keberagaman yang ada selama ini begitu rapuh, sehingga dengan alasan apapun mudah sekali untuk saling mencurigai dan memusuhi daripada mengembangkan sikap berbagi kasih dan menyemai perdamaian. Mengutip kata Peter Sanders, Fotografer Legendaris Inggris, kita “mengetahui bahwa selalu ada alasan untuk membenci tetapi selalu tidak cukup alasan untuk mencintai.”

Membaca catatan yang ditulis oleh kurator pameran ini tentu sangat menarik. Pertama kurator mengemukakan ihwal fotografi itu sendiri yang dalam perkembangannya di Indonesia sempat menuai pelarangan karena alasan-alasan tertentu, namun akhirnya teknologi yang bergerak dinamis seperti kamera, tidak dapat ditolak kehadirannya, dan justru membantu memperkaya khazanah budaya Islam. Kedua, ada kalimat eksplisit yang ia katakan bahwa jilbab, sorban, tidak identik dengan terorisme. Kurator memberi catatan ini sebagai penegasan tema yang disampaikannya lewat photo-photo yang ia pamerkan, bahwa Islam membawa perdamaian, bukan agama yang menjadi biang-keladi konflik seperti yang marak dibicarakan terutama setelah peristiwa 11 September. Bagaimana sebenarnya photo-photo ini berbicara? Saya akan memasuki ruang pameran dan melihat lapisan makna denotasi dan konotasi yang ditawarkan Barthes.

Pameran ini yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya mempunyai 8 Sub-judul yang mengetengahkan karya-karya Fotografer Indonesia dan Fotografer Inggris. Gambaran tentang kedua masyarakat muslim tersebut dipisahkan dalam ruang yang berbeda. Ruangan yang berisi instalasi foto-foto karya anak-anak bangsa Indonesia menampilakan Arizona Sudiro dengan judul karyanya “Di Tengah Pendosa“; Firdaus Fadlil berbicara tentang “Musik Islami“; Angki Purbandono dalam “Mode Perempuan Muslim Indonesia“; Muhamad Iqbal dalam “Peziarah“; Ray Bachtiar dengan foto-fotonya berjudul “Iqro“; dan Bodi Chandra dalam, “Komunitas Muslim Tionghoa“. Sedangkan karya yang mewakili masyarakat Inggris adalah Peter Sanders dengan judul “The Art of Integration“. Pilihan-pilihan judul tersebut secara garis besar dapat dibayangkan sebagai gambar-gambar yang akan menceritakan kehidupan berbudaya masyarakat Muslim sehari-hari dan bagaimana Islam sebagai suatu keyakinan mereka jalani.

Keseimbangan Hitam-Putih dalam Di Tengah Pendosa
Saya hanya akan membahas dari foto-foto yang disusun dari sayap sebelah kanan, yaitu karya-karya milik Arizona Sudiro “Keseimbangan“ di antara Hitam dan Putih dalam “Di Tengah Pendosa”
Foto-foto karya Sudiro bercerita tentang kampung pelacuran Saritem yang sangat terkenal di Bandung. Di tengah kampung itu kemudian berdiri satu pesantren Daar-Taubah. Foto-foto yang ditampilkan adalah anak-anak pesantren Daar-Taubah yang semuanya laki-laki dengan kegiatan belajarnya. Hanya satu foto yang menampilkan santri perempuan, yaitu foto yang menceritakan dua orang santri perempuan yang berpapasan dengan pekerja seks yang melintas di depan Masjid Daar-Taubah. Kemudian ada foto-foto jemuran di pagar, dengan berlatar belakang jemuran perempuan, dan atap-atap rumah penduduk di daerah marjinal dengan antena televisi di atasnya. Foto jemuran itu diantara kompleks pelacuran itu dilihat dari dua sisi. Lalu karya Sudiro yang lain, ada foto yang memaparkan seorang pekerja seks dengan pasangannya, seorang bocah yang memanjat genting, dan foto seorang ibu yang memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain dan belajar di Pesantren Daar Taubah. Foto-foto tersebut dalam komposisi warna hitam dan putih.

Saya pernah mendengar rumor konon pembangunan masjid di dekat kompleks pelcuran Saritem di Bandung, salah satunya mendapat sumbangan dari pekerja seks di Saritem. Terlepas benar atau tidaknya rumor ini, saya melihat bagaimana Sudiro memaknai kehidupan hitam dan putih dalam masyarakat setempat di dekat kompleks pelacuran Saritem. Kehidupan hitam kaum pekerja seks dan kehidupan putih –Pesantren begitu paradoks bercampur dalam satu masyarakat. Sudiro memandang, percampuran ini bukan suatu yang nista.

Dalam suatu foto tentang anak pesantren yang berjalan di atas atap, saya mendapat kesan, jika ia tak berusah amenyeimbangkan dirinya, ia akan jatuh. Tapi foto-foto yang menarik bagi saya adalah jemuran di atas pagar kawat yang memisahkan pesantren dengan kompleks pelacuran. Pagar kawat itulah batas, atau dimaknai sebagai norma yang diajarkan dalam pendidikan agama di Pesantren. Jemuran itu kebanyakan terdiri atas handuk, celana dalam laki-laki dan celana bicycle pen laki-laki, serta sebuah kaos. Sementara latar di belakangnya adalah jemuran baju tidur perempuan, dan antena televisi yang menggambarkan dunia modernitas, keglobalan. Pagar ini nampak begitu riskan, setidaknya ketika ia difungsikan juga sebagai jemuran baju laki-laki, laki-laki dianggap Sudiro sebagai sosok manusia yang bisa memfungsikan norma-norma itu untuk kekuasaannya dan laki-laki lah yang rentan terhadap pelanggaran setidaknya hanya dengan memandang jemuran baju tidur perempuan pekerja seks di seberangnya, atau ketika di pagi hari dua sisi manusia itu masing-masing menjemur pakaian, suatu rutinitas manusia sehari-hari yang biasanya dilakukan di pagi hari, dan setidaknya di balik pagar itu mereka memandang.
Memandang yang di luar pagar adalah memandang dunia di perkampungan marginal yang juga memperlihatkan bagaimana menjamurnya antena televisi. Televisi bukan barang yang mewah lagi di daerah slum area sekali pun. Teknologi kotak yang juga menghasilkan gambar-gambar bergerak itu bukan tidak memberi sumbangan pada kehadiran kaum pekerja seks. Melalui televisi cara hidup masyarakat dijejali dengan ideologi-ideologi material, paham konsumtif, sementara di daerah-daerah marjinal konsumsi dalam keadaan perekonomian yang sedang tidak stabil, mengajak orang untuk berpikir pendek: bagaimana mempertahankan hidup dan eksistensinya bagi mereka. Proses mempertahankan hidup dan pencarian eksistensi dalam kaitannya dengan perekonomian masyarakat kelas marginal, dipotret oleh Sudiro dengan hanya menggunakan dua kaca mata:hitam-putih.

Komposisi hitam putih yang dipilih Sudiro dalam foto memberikan efek yang natural dan tegas. Tapi menurut Barthes, natural adalah yang dinaturalkan. Begitupun cara memandang Sudiro lewat karyanya. Dengan mengetengahkan foto-foto di atas tadi, dunia hitam putih yang tegas itu tegas pula memisahkan oposisi biner antara yang baik dan yang buruk. Meski pun menggambarkan keadaan yang bercampur dalam satu masyarakat, tapi dengan adanya dikotomi itu membuat posisi keduanya yang hitam dan putih itu tidak sejajar. Adanya pesantren itu mengukuhkan keberadaannya bahwa dunia di sebrangnya adalah hitam dan disebut dalam judul Di Tengah Dunia Pendosa, dunia hitam itu terpinggirkan.

Sudiro juga memandang perempuan dengan dikotomi perempuan baik-baik dan perempuan pekerja seks yanng pendosa. Foto seorang ibu dengan reprensatasi berjilbab memperhatikan anak-anak belajar dan bermain di pesantren, mempunyai makna ibu adalah penjaga moral generasi berikutnya. Perempuan yang ibu diharapkan adalah seorang perempuan baik-baik. Harapan seperti itu bagi saya tidak salah, tapi apakah kenyataan pada masyarakat kita yang bisa menjadi ibu hanyalah perempuan yang diseteoratifkan baik-baik? Dari brosur ada foto yang tidak direpresentasikan dalam pameran, sebaliknya tidak semua foto dalam pameran direpresentasikan dalam brosur.

Tapi saya ingin mengatakan bahwa Sudiro mempunyai foto tentang representasi ibu dan anak-anaknya, tapi ibu itu sehari-harinya bekerja sebagai pekerja seks. Anak-anaknya menjadi santri di Pesantren tetangganya. Sesuatu yang paradoksal ini menurut saya tidak harus dipandang hitam dan putih saja. Tapi tentunya masih ada aspek lain, ibu yang pekerja seks pun berharap anak-anaknya bermasa depan baik, mampu menjalankan agamanya dengan baik. Soal dirinya yang menjadi pekerja seks adalah pilihan yang mungkin terpaksa sebagai akibat dari benturan persoalan ekonomi, sementara satu sisi kemewahan yang ditawarkan televisi setiap hari yang mengiklankan diri di rumah-rumah mereka.

Dalam foto berpapasan antara santri dan pekerja seks, yang dibidik dalam photo tersebut, hanya berpapasan dan saling memandang. Saya membayangkan jika keduanya difoto saat sedang bersalaman atau terlibat dalam suatu kegiatan bersama. Kritik saya benarkah dalam kehidupan nyata bahwa dikotomi hitam dan putih ini membuat masyarakat yang seharusnya bercampur, membaur, pada akhirnya hanya memandang dan membedakan dirinya dari sisi baik dan buruk. Tidakkah ada sisi-sisi lain dimana mereka saling berbagi? Pagar sebagai suatu prinsip memang perlu ada. Keseimbangan memang dibutuhkan. Pesantren yang sederhana dan mengajarkan pola hidup terkontrol, tidak saja berorientasi materi, memang dibutuhkan untuk mempertahankan diri dari serangan iklan kemewahan yang ditawarkan pasar global lewat televisi. Tapi saya kira dalam kenyataan sehari-hari suatu masyarakat pasti pernah merasakan suka duka kebersamaan antara sesamanya. Saya kira perempuan pekerja seks juga membayar iuran RT dan lain-lain yang digunakan juga secara bersama-sama oleh masyarakat untuk kepentingan bersama.

Jika pilihan Sudiro pada karya-karyanya tersebut dianggapnya paling sesuai dengan kondisi natural masyarakat, saya menganggap bahwa masyarakat tersebut adalah naturisasi Sudiro yang direpresentasikan lewat foto-fotonya.Sudiro adalah bagian dari msyarakat, produk masyarakat yang kebanyakan masih memandang kenyataan sebagai hitam-putih. Hitam dan putih itu telah menginternalisasi dalam diri individu, tegas dan berjarak. Tema yang yang diusung Sudiro sebenarnya menurut saya tidak selaras dengan tema besar yang diusung oleh “Common Ground” bahwa kolaborasi budaya di bidang seni merupakan salah satu jalan untuk memupuk saling pengertian antar budaya. Tapi justru inilah yang menarik dari pameran fotografi ini. Pameran ini mampu merepresentasikan berbagai pengalaman muslim era kontemporer terutama di Indonesia. Pameran ini sendiri merupakan potret realitas kehidupan beragama masyarakat kita yang meminjam istilah Muhamad Sobary “mewakili ciri sosiologis dan ciri eksoteris Islam bagi fotografer”.

By Dina A.S.

Labels:

posted by Beranda Buku @ 8:36 PM  
1 Comments:
Post a Comment
<< Home
 

Dukung Gerakan Literasi Kami/Support our Literacy Movement
Kunjungi blog kami secara regular. Berikan komentar/Visit this site regularly. Please leave a comment
Kirimkan donasi Anda berupa buku2, finansial atau sarana/Send your donation, books, financial and/or other library inventories
Donasi dapat dialamatkan ke SINI /Send your donation HERE

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Comment Please!!
Name :
Web URL :
Message :


Blog Perpustakaan

Menu
Friends & Associates
Templates by
Free Blogger Templates

Pembelajar sejati adalah pembelajar sepanjang kehidupan berdetak dalam ribuan warna musim dengan senyuman ingin tahu Ibrahim menanyakan siapa diri, menanyakan siapa Tuhannya . A lifelong learner is a learner for as long as his/her heartbeat still in a thousand of color of seasons with a smile of Abraham asks who he is, asking who his lord is.