Beranda Buku

Monday, June 04, 2007
Pendidikan Tinggi atau Pekerjaan ????
Hari ini saya membaca artikel dari teman, tepatnya di muat di Kompas (07/05/2007). Artikel tersebut menceritakan beberapa orang yang terpaksa bekerja serabutan dan tidak sesuai dengan keahliannya lantaran kena dampak PHK di tempat kerjanya. Beberapa dan hampir sebagian di antara mereka adalah tenaga – tenaga terlatih dan berpendidikan tinggi, bahkan ada yang pernah menjalani studi di luar negeri. Namun, kesempatan kerja yang sedikit serta umur yang beranjak tua membuat mereka tidak diterima lagi untuk bekerja sesuai dengan keahliannya. Pekerjaan – pekerjaan informal dan tidak banyak dihargai orang diantaranya seperti tukang cat, jualan gorengan, buka warung kopi, tukang es krim dan bahkan menjadi supir panggilan dengan upah ala kadarnya dan sangat di bawah standar.

Langkanya ketersediaan lapangan kerja, memang sudah menjadi hal klasik di negeri tercinta di mana puluhan ribu lowongan kerja harus diperebutkan oleh berjuta orang pencari kerja. Dahulu kala, seorang sarjana begitu dihargai di sini, tetapi sekarang banyak sekali sarjana yang menganggur. Beberapa kalangan mengkritisi metoda pendidikan di Perguruan Tinggi (PT) yang tidak membuat mahasiswanya kreatif dan setelah keluar dari PT tersebut dia tidak bisa mengembangkan kemampuannya secara mandiri.
Kalangan wirausahawan berusaha menarik kelompok – kelompok pencinta usaha mandiri ini dan pada akhirnya beberapa pelatihan khusus kewirausahawan di buka dimana – mana. Pelatihan motivasi menjadi pengusaha sukses, kiat-kiat menjadi wirausahawan sejati saat itu booming di masyarakat. Keinginan dan euphoria yang sesaat tersebut telah melembaga di hati orang – orang yang idealis. Termasuk di dalamnya salah satu teman saya. Dia rela keluar dari sebuah PT bonafid di Bandung demi sebuah cita – cita menjadi pengusaha sukses. Dia merasa, pendidikan membuatnya terpenjara karena tidak ada kebebasan dalam menentukan pilihan, atau kata kerennya the slave of education. Dengan begitu, dia telah mengecewakan beberapa orang terdekat yang selama ini menopang hidupnya. Anehnya, dia tetap aja dengan percaya diri melangkah tanpa memperdulikan beberapa kritikan atau bahkan makian dari orang yang telah dikecewakannya. Beberapa usaha telah dia tekuni yang pada akhirnya gagal di tengah jalan. Memang, semuanya tidak ada yang serba instan dan langsung berhasil. Pengusaha yang sukses pun telah mengalami beribu penderitaan, sebelum dia meraih sukses. Begitu dia selalu berujar.
Ada lagi teman saya terbawa dengan euphoria seorang pengusaha. Dengan sedikit modal, dia bergabung dengan temannya. Dengan modal 20 juta, mereka membuka cabang sebuah perusahaan jasa pengiriman barang di Bandung. Beberapa perjanjian sederhana telah dibuat dan disepakati. Dia mendapatkan modal tersebut dengan meminjam uang dari bank yang harus ia lunasi selama 3 tahun. Tahun pertama berlalu, dan dia merasa sedikit puas telah mengamalkan ilmu berwirausaha dengan baik. Namun, pembayaran tahun kedua mulai tidak lancar dan temannya sering mengeluhkan keadaan perusahaan yang sering kollaps gara – gara kurangnya modal dan beberapa masalah intern keluarga. Akhirnya, berita buruk itu pun datang. Partnernya mengatakan bahwa perusahaannya bangkrut dan dia berjanji akan mengembalikan modal sebesar 10 juta 6 bulan kemudian, dan tinggal teman saya yang masih menanggung cicilan di bank dalam dua tahun ke depan. Dari situ saya berpikir, bahwa tekad wirausaha saja tidak cukup. Perhitungan yang matang, bakat terutama dari latar belakang keluarga sangat mendukung. Karena, keluarga adalah tempat di mana orang tua menanamkan nilai – nilainya pada kita. Walaupun saat ini kita hidup di dalam lingkungan yang berbeda. Tapi, masa kecil akan selalu kita ingat dan itu sangat tertanam kuat dalam setiap langkah kita. Tidak ada jalan untuk mengeluh, yang ada hanya kita berusaha untuk menatap masa depan dan menghadapi kenyataan yang ada.
Kembali lagi ke masalah penguasaan bisnis atau wiraswasta. Saya kira mereka yang berkeahlian tinggi punya spesifikasi kerja sesuai dengan bidangnya dan tidak bisa disamakan dengan seorang wirausahawan. Mereka membutuhkan sebuah perusahaan atau badan yang menyediakan beberapa kegiatan yang menunjang keahlian mereka. Karena notabene mereka adalah orang – orang teknik, bukan manajemen. Saya kadang kurang setuju juga dengan beberapa pernyataan bahwa menjadi pegawai adalah budak uang atau pernyataan seperti “ uang yang bekerja untuk kita dan bukan kita yang bekerja untuk uang”. Seperti yang Robert Kiyosaki bilang, awalnya saya menggemari buku tersebut, tetapi saat ini tidak semua yang dikatakan dia benar. Tidak semuanya menjadi pegawai itu jelek. Tetapi lebih kepada keadaan yang ada dan keahlian yang menunjang. Kalau semuanya ingin menjadi bos dan manajer lalu siapa yang akan menjadi pegawai??? Walau pun, booming emoh jadi pegawai melanda masyarakat. Tetapi banyak saja yang mencari lowongan – lowongan di beberapa perusahaan atau paling gampangnya di instansi – instansi pemerintahan. Semua lamaran pasti diserbu habis apalagi bagi yang mendambakan ketenangan dan jaminan di hari tua.
Kembali lagi dengan keadaan di Indonesia. Modal bertekad menjadi wirausaha sepertinya agak tersendat karena keterbatasan modal. Kita lihat, beberapa sektor ekonomi penting dan aset – aset perusahaan yang bonafid kebanyakan dikuasai oleh para konglomerat yang bahkan kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan sekalipun. Kita yang mempunyai level finansial di bawah mereka, secara wajar dan sadar menghamba kepada mereka menjadi pegawai di perusahaannya. Dan kita lihat, siapa yang bermental pengusaha?? Yang pasti anak – anaknya. Mereka sudah dididik menjadi manajer dan pemimpin perusahaan. Jadi memang itulah kenyataannya.
Tapi, di atas itu semua, kita harus menghargai semua profesi yang ada dan tidak menganggap rendah profesi yang lain termasuk didalamnya seorang pegawai atau yang bermental pegawai atau orang yang bekerja sebagai bawahan atau seseorang yang berpendidikan tinggi dan pada akhirnya menjadi pegawai.. Semua mempunyai pilihan, dan lihatlah, mereka yang menang adalah mereka yang berani dan selalu mensyukuri apa yang mereka dapatkan sekarang. Tidak ada yang salah di antara semuanya. Ini tergantung dari sudut pandang mana kita melihat sebuah permasalahan. Itu saja.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kenyataan yang penulis hadapi dan melihat dari beberapa kasus yang cukup beralasan.***Afitchan-Perth***07/05/2007

Labels:

posted by Beranda Buku @ 11:46 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 

Dukung Gerakan Literasi Kami/Support our Literacy Movement
Kunjungi blog kami secara regular. Berikan komentar/Visit this site regularly. Please leave a comment
Kirimkan donasi Anda berupa buku2, finansial atau sarana/Send your donation, books, financial and/or other library inventories
Donasi dapat dialamatkan ke SINI /Send your donation HERE

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Comment Please!!
Name :
Web URL :
Message :


Blog Perpustakaan

Menu
Friends & Associates
Templates by
Free Blogger Templates

Pembelajar sejati adalah pembelajar sepanjang kehidupan berdetak dalam ribuan warna musim dengan senyuman ingin tahu Ibrahim menanyakan siapa diri, menanyakan siapa Tuhannya . A lifelong learner is a learner for as long as his/her heartbeat still in a thousand of color of seasons with a smile of Abraham asks who he is, asking who his lord is.